Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik innal hamda wan ni‘mata laka wal mulku laa syarika lak ...

Senin, 23 Februari 2009

Pesan Spritual Ibadah Haji

Merupakan kebiasaan kita berziarah kepada orang yang melaksanakan ibadah haji sebelum dan sesudahnya, yaitu dengan ditambah dengan minta doa jika sesudahnya. Kaitannya dengan masalah ini adalah doa Rasulullah SAW yang artinya : “Ya Allah ampunkanlah orang yang haji dan orang yang dimintakan ampun orang yang haji”.

Sebagian ulama berkesimpulan bahwa doa orang yang haji itu dikabulkan oleh Allah SWT semenjak ia ditanah Haram sampai empat puluh hari setelah ia masuk rumahnya, mengingat ia telah menginjakkan kaki di tempat-tempat yang mustajab seperti multazam, maqom Ibrahim, Raudhah dan seterusnya. Disamping itu sesungguhnya semua perintah syari’at selain merupakan ibadah yang ada pahalanya juga ada nilai-nilai spiritualnya. Puasa umpamanya, nilai spiritualnya adalah agar kita merasa peduli kepada saudara-sudar kita yang kurang mampu dari segi ekonomi. Zakat memiliki nilai piritual agar kita melawan sifat-sifat yang tak terpuji yang bercokol dalam diri kita, yag dalam hal ini khususnya sifat bakhil. Sifat bakhil pasti ada dalam diri setiap manusia sebagaimana juga sifat dermawan. Kedua sifat ini akan terus bertolak belakang dan yang menang itulah yang akan menonjol dalam perilaku orang tersebut. Seperti demikian juga yang ada pada sifat sabar dan emosional. Keduanya merupakan sifat bawaan sejak lahir. Mana yang lebih dominan antara keduanya, itulah yang akan mewarnai peilaku seseorang. Adapun tentang ibadah haji, Allah berfirman:
َوأذنْ فِى الَّناِس بِالحَجِّ يَأتُوكَ ِرجَالاً وَعَلى كُلِّ ظامِرٍ يأتون ِمن كلِّ فجٍ عَمِيق

“Suruhlah kepada umat manusia untuk melaksanakan ibadah haji niscaya mereka akan datang dari seluruh penjuru dunia dengan berjalan kaki dan naik unta-unta yang kurus”

Sebagian ulama’ mengartikan bahwa “naik unta-unta yang kurus” merupakan gambaran kesukaran dan kelelahan yang dialami oleh para jama’ah haji, termasuk cuaca yang amat panas atau waktu musim angin yang menerbangkan butiran-butiran pasir. Tapi walapun demikian kaum muslimin akan tetap berbondong-bondong untuk melaksanakannya, karena itu sudah nerupakan janji Allah. Bahkan Allahpun berjanji bahwa yang melaksanakan ibadah haji tidak akan kurang dari enam ratus ribu orang. Seandinya kurang, maka Allah akan mengutus para malaikat unuk berbaur bersama para manusia untuk melaksanakan ibadah haji.

Tentang pesan spiritual yang tersimpan dalam ibadah haji adalah agar para jam’ah melihat tempat-tempat yang pernah disinggahi oleh manusia termulia, Rasulullah SAW disamping menyaksikan orang yang sedemikian banyak dalam keadaan kelelahandan kecapaian ketika melaksanakan haji. Disana terpancar wajah-wajah yang penuh ketundukan, kepatuhan, dankepasrahan dalam waktu dan tempat yang sama. Berjuta-juta orang bersama-sama melantunkan talbiyah dan tahmid yang selama ini belum ada tempat yang sanggup menghimpun manusia dalam jumlah yang sangat banyak disaat yang sama. Bagi orang yang melaksanakan ibadah haji khususnya, hal itu akan menggerakkan hatinya untuk lebih mengakui keagungan dan kebesaran Allah SWT yang juga berarti akan menambah kuat keimanannya.

Yang paling penting dalam melaksanakan ibadah haji adalah niatnya harus benar-benar karena dan untuk Allah, sebab ibadah haji adalah ibadah yang terbuka yang akan diketahui oleh masyarakat sekampung atau sekelurahan. Hal ini tentu sangat rawan terhadap serangan virus-virus yang akan menghilangkan nilai pahala seperti tersebut diatas Rasullullah juga saw yang artinya: ketika zaman sudah akhir orana-orang yang melaksakan ibadah haji terbagi pada empat kelompok. Pertama kelompok penguasa dan petinggi Negara mereka berhaji untuk wisata. Ke dua kelompok konglomerat mereka berhaji untuk berbisnis. Ketiga kelompok fuqoro’ dan masakin mereka berhaji untuk meminta-minta, mungkin muncul pertanyaan apa mungkin orang-orang miskin berhaji, mungkin bagi mereka-mereka yang tempat tinggalnya tidak jauh dari Tanah Haram. Kalau tempat tinggalnya di Indonesia tentu dan pasti mereka orang-orang kaya, keempat orang-orang yang berilmu mereka berhaji untuk mencari nama.

Tetapi kita tidak boleh salah dalam mempraktekkan hadits di atas, artinya hadits itu tidak untuk di gunakan menilai para jamaah haji tetapi merupakan warning bagi mereka agar extra hati-hati jangan sampai mereka termasuk salah satu dari empat golongan tersebut, sama halnya dengan masalah haji mabrur tidak ada yang tahu bahkan yang bersangkutan sendiri kecuali Allah swt, tetapi para ulama’ memberikan tanda-tanda bagi haji yang mabrur yaitu mereka akan lebih baik di banding dengan sebelum melaksanakan haji, sekali lagi kita tidak boleh mengatakan hajinya fulan tidak mabrur sudah haji kok begini begitu dan seterusnya, karena mabrur dan tidaknya itu urusan Allah swt. Dan yang bersangkutan, akan tetapi bagi mereka yang yang sudah melaksanakan ibadah haji merka harus melihat dirinya kembali, apakah ibadahnya sudah semakin baik, apakah shodaqohnya semakin banyak, apakah lebih tersentuh kepeduliannya dan kemanusiaannya melihat penderitan orang lain dan ketidak adilan dan begitu seterusnya, dan bila ia dapati semua itu berbahagialah dan bersyukurlah karena tanda-tanda haji mabrur ada pada dirinya yang kelak balasannya adalah surga sebaliknya bila ia tidak dapati tanda-tanda tersebut berarti dia telah mengorbankan watu, tenaga, dan harta pada kesia-siaan semogah ibadah kita semuanya di terima oleh Allah swt.

Penulis:
Fathul Munif
Pemimpin Redaksi Al-Bashiroh

[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, 21 Februari 2009

Perjalanan Ma'rifatullah

Tersebutlah Asy-Syibli, seorang murid Imam Ali Zainal 'Abidin. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, ia segera menemui Ali untuk menyampaikan pengalaman hajinya. Terjadilah percakapan di antara mereka.

"Wahai Syibli, bukankah engkau telah selesai menunaikan ibadah haji?" tanya Ali. Ia menjawab, "Benar, wahai Guru."

"Apakah engkau berhenti di Miqat, lalu menanggalkan semua pakaian yang terjahit, dan kemudian mandi?"

Asy-Syibli menjawab, "Benar."

"Ketika berhenti di Miqat, apakah engkau bertekad untuk menanggalkan semua pakaian maksiat dan menggantinya dengan pakaian taat? Ketika menanggalkan semua pakaian terlarang itu, adakah engkau pun menanggalkan sifat riya, nifaq, serta segala syubhat? Ketika mandi sebelum memulai ihram, adakah engkau berniat membersihkan dari segala pelanggaran dan dosa?"

Asy-Syibli menjawab, "Tidak."

"Kalau begitu, engkau tidak berhenti di Miqat, tidak menanggalkan pakaian yang terjahit, dan tidak pula membersihkan diri!"

Ali bertanya kembali, "Ketika mandi dan berihram serta mengucapkan niat, adakah engkau bertekad untuk membersihkan diri dengan cahaya tobat? Ketika niat berihram, adakah engkau mengharamkan atas dirimu semua yang diharamkan Allah? Ketika mulai mengikatkan diri dalam ibadah haji, apakah engkau rela melepaskan semua ikatan selain Allah?"

"Tidak," jawabnya.

"Kalau begitu, engkau tidak membersihkan diri, tidak berihram, tidak pula mengikatkan diri dalam haji Bukankah engkau telah memasuki Miqat, lalu shalat dua rakaat, dan setelah itu engkau mulai bertalbiyah?"

"Ya, benar."

"Apakah ketika memasuki Miqat engkau meniatkannya sebagai ziarah menuju keridhaan Allah? Ketika shalat dua rakaat, adakah engkau berniat mendekatkan diri kepada Allah?"

"Tidak, wahai Guru."

"Kalau begitu engkau tidak memasuki Miqat, tidak bertalbiyah dan tidak shalat ihram dua rakaat!," tegas Ali Zainal 'Abidin.

"Apakah engkau memasuki Masjidil Haram, memandang Ka'bah serta shalat di sana?"

"Benar."

"Ketika memasuki Masjidil Haram, apakah engkau berniat mengharamkan dirimu segala macam ghibah? Ketika sampai di Mekkah, apakah engkau bertekad untuk menjadikan Allah satu-satunya tujuan?"

"Tidak," jawabnya.

"Sesungguhnya, engkau belum memasuki Masjidil Haram, tidak memandang Ka'bah, serta tidak shalat pula di sana!"

Ali bertanya kembali, "Apakah engkau telah berthawaf dan berniat untuk berjalan serta berlari menuju keridhaan Allah?

"Tidak."

"Kalau begitu, engkau tidak berthawaf dan tidak pula menyentuh rukun-rukunnya!"

Tanpa bosan Ali kembali bertanya, "Apakah engkau berjabat tangan dengan Hajar Aswad dan shalat di Maqam Ibrahim?"

Dijawabnya, "Benar."

Mendengar jawaban itu, Ali Zainal 'Abidin menangis, seraya berucap, "Oooh, barangsiapa berjabat tangan dengan Hajar Aswad, seakan ia berjabat tangan dengan Allah. Maka ingatlah, janganlah sekali-kali engkau menghancurkan kemuliaan yang telah diraih, serta membatalkan kehormatanmu dengan aneka dosa!"

Cucu Rasulullah SAW ini terus mencecar muridnya. "Saat berdiri di Maqam Ibrahim, apakah engkau bertekad untuk tetap berada di jalan taat serta menjauhkan diri dari maksiat? Ketika shalat dua rakat di sana, apakah engkau bertekad untuk mengikuti jejak Ibrahim serta menentang semua bisikan setan?"

"Tidak."

"Kalau begitu, engkau tidak berjabat tangan dengan Hajar Aswad, tidak berdiri di Maqam Ibrahim, tidak pula shalat dua rakaat!"

Lanjutnya, "Apakah ketika melakukan Sa'i, antara Shafa dan Marwah, engkau menempatkan diri di antara harapan akan rahmat Allah dan rasa takut menghadapi murkaNya?"

"Tidak," jawab Asy-Syibli.

"Kalau begitu, engkau tidak melakukan perjalanan antara dua bukit itu! Ketika pergi ke Mina, apakah engkau bertekad agar orang-orang merasa aman dari gangguan lidah, hati, serta tanganmu?"

"Tidak."

Ali menggelengkan kepala, "Kalau begitu, engkau belum ke Mina! Apakah engkau telah Wukuf di Arafah, mendaki Jabal Rahmah, mengunjungi Wadi Namirah, serta memanjatkan do'a-do'a di bukit Shakharaat?"

"Benar, seperti itu."

"Ketika Wukuf di Arafah, apakah engkau menghayati kebesaran Allah, serta berniat mendalami ilmu yang dapat mengantarkanmu kepadaNya? Apakah ketika itu engkau merasakan kedekatan yang demikian dekat denganmu? Ketika mendaki Jabal Rahmah, apakah engkau mendambakan Rahmat Allah bagi setiap Mukmin? Ketika berada di Wadi Namirah, apakah engkau berketetapan hati untuk tidak meng-amar-kan yang ma'ruf, sebelum engkau meng-amar-kannya pada dirimu sendiri? Serta tidak melarang seseorang melakukan sesuatu sebelum engkau melarang diri sendiri? Ketika berada di antara bukit-bukit sana, apakah engkau sadar bahwa tempat itu akan menjadi saksi segala perbuatanmu?"

"Tidak."

"Kalau begitu, engkau tidak wukuf di Arafah, tidak mendaki Jabal Rahmah, tidak mengenal Wadi Namirah, tidak pula berdo'a di sana! Apakah engkau telah melewati kedua bukit Al-'Alamain, melakukan shalat dua rakaat sebelumnya, lalu meneruskan perjalanan ke Muzdalifah untuk memungut batu-batu di sana, lalu melewati Masy'aral Haram?"

"Ya, benar."

"Ketika shalat dua rakaat, apakah engkau meniatkannya sebagai shalat syukur, pada malam menjelang sepuluh Dzulhijjah, dengan mengharap tersingkirnya segala kesulitan serta datangnya segala kemudahan? Ketika lewat di antara bukit itu dengan sikap lurus tanpa menoleh kanan kiri, apakah saat itu engkau bertekad untuk tidak bergeser dari Islam; tidak dengan hatimu, lidahmu, dan semua gerak gerikmu? Ketika berangkat ke Muzdalifah, apakah engkau berniat membuang jauh segala maksiat serta bertekad untuk beramal yang diridhaiNya? Ketika melewati Masy'aral Haram, apakah engkau mengisyaratkan untuk bersyiar seperti orang-orang takwa kepada Allah?"

"Tidak."

"Wahai Syibli, sesungguhnya engkau tidak melakukan itu semua!"

Ali Zainal 'Abidin melanjutkan, "Ketika engkau sampai di Mina, apakah engkau yakin telah sampai di tujuan dan Tuhanmu telah memenuhi semua hajatmu? Ketika melempar Jumrah, apakah engkau meniatkan untuk melempar dan memerangi iblis, musuh besarmu? Ketika mencukur rambut (tahallul), apakah engkau bertekad untuk mencukur segala kenistaan? Ketika shalat di Masjid Khaif, apakah engkau bertekad untuk tidak takut, kecuali kepada Allah dan tidak mengharap rahmat kecuali dariNya semata? Ketika memotong hewan kurban, apakah engkau bertekad untuk memotong urat ketamakan; serta mengikuti teladan Ibrahim yang rela mengorbankan apapun demi Allah? Ketika kembali ke Mekkah dan melakukan Thawaf Ifadhah, apakah engkau meniatkannya untuk berifadhah dari pusat rahmat Allah, kembali dan berserah kepadaNya?"

Dengan gemetar, Asy-Syibli menjawab, "Tidak, wahai Guru."

"Sungguh, engkau tidak mencapai Mina, tidak melempar Jumrah, tidak bertahallul, tidak menyembelih kurban, tidak manasik, tidak shalat di Masjid Khaif, tidak Thawaf Ifadhah, tidak pula mendekat kepada Allah! Kembalilah, kembalilah! Sesungguhnya engkau belum menunaikan hajimu!"

Asy-Syibli menangis tersedu, menyesali ibadah haji yang telah dilakukannya. Sejak itu, ia giat memperdalam ilmunya, sehingga tahun berikutnya ia kembali berhaji dengan ma'rifat serta keyakinan penuh.
kotasantri.com

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 20 Februari 2009

Perjalanan Haji 2008

Assalamu'alaikum wr.wb,

Inilah sebagian foto kegiatan ibadah haji tahun 2008 Kloter 15 rombongan KBIH Shofa Pontianak.


Masjidil Haram, Makkah

Jabal Rahmah

Jabal Magnet

[+/-] Selengkapnya...